
Ironi Pembangunan dan Kebutuhan Dasar yang Terabaikan Krisis air bersih di Kalimantan Timur menjadi ironi besar yang dirasakan warga di tengah masifnya pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN). Masalah ini bukan sekadar dampak cuaca buruk atau kemarau, melainkan akumulasi dari kegagalan perencanaan infrastruktur dasar yang sudah terjadi menahun. Saat triliunan rupiah anggaran mengalir untuk pembangunan gedung beton, kebutuhan paling mendasar ribuan warga justru seolah “terlupakan”. Akibatnya, banyak masyarakat yang harus berjuang sendiri dengan membeli banyak tandon air sebagai langkah antisipasi karena ketidakpastian layanan air bersih dari pemerintah.

Balikpapan dan Ketergantungan pada Tadah Hujan Secara geografis, Balikpapan menghadapi tantangan berat karena tidak memiliki sungai besar yang mengalir sepanjang tahun sebagai sumber air baku. Kota ini bergantung 100% pada konsep “mangkok” tadah hujan, yakni Waduk Manggar dan Bendungan Teritip. Fakta pahitnya adalah ketersediaan air sangat fluktuatif; jika hujan jarang turun, stok air menipis dan distribusi ke rumah warga otomatis digilir. Masalah ini diperparah oleh kondisi pipa distribusi yang sudah tua dan sering mengalami kebocoran teknis, membuat air yang sudah susah payah ditampung justru hilang di perjalanan sebelum sampai ke rumah warga.

Samarinda dan Beban Berat Sungai Mahakam Berbeda dengan tetangganya, Samarinda sebenarnya memiliki sumber air yang melimpah dari Sungai Mahakam, namun kualitas air bakunya kini dalam kondisi kritis. Kerusakan area tangkapan air (catchment area) di hulu akibat aktivitas pertambangan dan deforestasi menyebabkan air sungai membawa lumpur pekat dan polutan ekstrem. Kondisi air yang keruh seperti “kopi susu” ini memaksa PDAM mengeluarkan biaya operasional yang sangat tinggi dan bekerja ekstra keras untuk proses penjernihan. Seringkali, saat beban polusi terlalu tinggi, produksi air bersih terpaksa dihentikan sementara yang berujung pada macetnya aliran air ke rumah warga.

Perbandingan Biaya dan Solusi Jangka Panjang Masyarakat membutuhkan solusi relevan yang lebih dari sekadar aksi mandiri membeli air tangki yang mahal dan membuat stres. Jika dibandingkan, mempertahankan kondisi saat ini (membeli air eceran) jauh lebih boros, tidak stabil, dan kualitas kesehatannya meragukan. Sebaliknya, perbaikan sistem melalui peremajaan pipa dan pelestarian hutan lindung menawarkan biaya per liter yang murah (tarif terukur), suplai 24 jam yang stabil, serta kualitas air yang terstandarisasi laboratorium. Fokus pada perbaikan infrastruktur dan pengawasan lingkungan adalah investasi jangka panjang yang wajib didorong agar warga tidak terus menerus “boncos” di ongkos air.